Rabu, 09 Mei 2012


Studi Morfologi dan Hubungan Kekerabatan Varietas Salak Pondoh  

(Salacca zalacca (Gaert.) Voss.) di Dataran Tinggi Sleman 

Studies on Morphological and Phylogenetic Relationship of Salak Pondoh 
Varieties (Salacca zalacca (Gaert.) Voss.) at Sleman Highlands. 
HERWIN SUSKENDRIYATI, ARTA WIJAYATI, NUR HIDAYAH, DEWI CAHYUNINGDARI 
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta 

Diterima: 2 Juni 2000. Disetujui: 24 Juni 2000 

ABSTRACT 
The objectives of the study were to know the morphological variation of salak-plants (Salacca zalacca (Gaert.) Voss. 
and their relationship. The study was conducted in May  to April 2000, at Turi and Pakem of Sleman district, 
Yogyakarta. Samples were randomly taken, 5 plants of each variety were studied their morphological characters such 
as stem, leaf, flower and fruit. The data collected were then analyzed descriptive comparatively and their relationships 
were then determined. The result of the study indicate that there were at least 8 varieties of salak at Sleman district, 
green-, black-, yellow-, manggala-, red-yellow-, golden-, red-, and red-black pondoh. Morphological differences 
among varieties were markedly different. The closest relationship was found between variety of red-black- and black 
pondoh, while the farthest relationship among the varieties was manggala pondoh.  
© 2000 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta 
Key words: Salacca zalacca (Gaert.) Voss.), morphology, variety.  

PENDAHULUAN 
Indonesia merupakan negara tropis yang 
kaya akan buah-buahan, beberapa 
diantaranya merupakan buah unggul yang 
rasa dan aroma buahnya memenuhi selera 
masyarakat banyak. Prioritas penelitian 
tanaman buah unggul asli Indonesia adalah 
manggis, mangga, duku, durian, rambutan, 
pisang, jeruk dan salak (Santoso, 1990). Salak 
banyak digemari masyarakat, baik dimakan 
segar, maupun diolah menjadi manisan dan 
asinan (Kusuma dkk., 1995). 
Tanaman salak (Salacca zalacca  (Gaert.) 
Voss.) diduga berasal dari Pulau Jawa dan 
sudah dibudidayakan sejak ratusan tahun 
silam. Pada masa penjajahan, tanaman ini 
dibawa ke pulau-pulau lain dan akhirnya 
tersebar luas sampai ke Filipina, Malaysia, 
Brunei dan Thailand (Nazarudin dan 
Kristiawati, 1997). Masyarakat Deli, Sunda, 
Jawa, Madura, Bali menyebutnya  salak, 
masyarakat Minang, Makasar dan Bugis 
menamainya  sala, sedang masyarakat 
Kalimantan menyebutnya  hakam atau  tusum
(Anonim, 1992). Daerah sebarannya yang luas 
menyebabkan banyak ragam varietas salak. 
Keragaman ini semakin meningkat sejalan 
dengan penggunaan biji sebagai sarana 
pembiakan. Varietas salak umumnya dikenal 
berdasarkan daerah tumbuhnya. Salak 
pondoh dan salak bali merupakan varietas 
yang memiliki nilai komersial tinggi (Kusuma 
dkk., 1995). 
Tanaman salak memerlukan curah hujan 
rata-rata 200-400 mm per bulan. Tanaman ini 
tidak menyukai penyinaran penuh, intensitas 
sinar yang dibutuhkan berkisar 50-70%, 
sehingga perlu tumbuhan penaung. Salak 
tumbuh dengan baik pada tempat beriklim 60 BIODIVERSITAS Vol. 1, No. 2, Juli 2000, hal. 59-64
basah dengan pH sekitar 6,5, berupa tanah 
pasir atau lempung yang kaya bahan organik, 
dapat menyimpan air dan tidak tergenang, 
karena sistem perakarannya dangkal 
(Santoso, 1990; Anonim 1982). Temperatur 
optimal 20-30
o
C, apabila kurang dari 20
o
perbungaan akan lambat, bila terlalu tinggi 
akan menyebabkan buah dan biji membusuk 
(Santoso, 1990). Salak tumbuh baik dari 
dataran rendah sampai ketinggian sekitar 700 
m dpl dan dapat berbuah sepanjang tahun, 
khususnya pada bulan Oktober dan Januari 
(Sastroprodjo, 1980).  

Klasifikasi 
Tanaman salak dapat diklasifikasikan 
sebagai berikut (Steenis, 1975; Tjitrosoepomo, 
1988): 
Divisi  : Spermatophyta 
Sub divisi  : Angiospermae 
Klas  : Monocotyledoneae 
Ordo  : Principes 
Familia  : Palmae 
Genus  : Salacca
Spesies  : Salacca zalacca (Gaert.) Voss.  
Sinonim : Salacca edulis Reinw. 
Deskripsi 
Tanaman salak termasuk golongan pohon 
palem rendah yang tumbuh berumpun. Batang 
hampir tidak kelihatan karena tertutup pelepah 
daun yang sangat rapat. Batang, pangkal 
pelepah, tepi daun dan permukaan buahnya 
berduri tempel. Pada umur 1-2 tahun batang 
dapat tumbuh ke samping membentuk beberapa tunas yang akan menjadi anakan atau 
tunas bunga. Tanaman salak dapat tumbuh 
bertahun-tahun hingga ketinggiannya mencapai tinggi 7 m (Anonim, 1992; Santoso, 1990).  
Daun tersusun roset, bersirip terputus, 
panjang 2,5-7 m (Santoso, 1990). Anak daun 
tersusun majemuk, helai daun lanset, ujung 
meruncing, pangkal menyempit. Bagian 
bawah dan tepi tangkai berduri tajam. Ukuran 
dan warna daun tergantung varietas (Anonim, 
1992).  
Tanaman salak termasuk tumbuhan 
berumah dua, bunga kecil muncul di ketiak 
pelepah, mekar selama 1-3 hari. Ketika masih 
muda diselubungi seludang yang berbentuk 
perahu. Simetri radial, mempunyai tiga daun 
kelopak dan tiga daun mahkota, kadangkadang struktur kelopak dan mahkota tidak 
dapat dibedakan. Kuntum bunga dibedakan 
menjadi kuntum besar dan kecil. Keduanya 
bersatu dalam satu dasar bunga yang memiliki 
satu putik dengan satu bakal biji.  Bunga 
jantan, terdiri dari stamen tanpa putik, banyak, 
rapat, panjang, tersusun seperti genteng, 
simetri radial. Bunga mempunyai mahkota dan 
mata tunas bunga kecil-kecil yang rapat, satu 
kelompok terdiri dari 4-14 malai. Satu malai 
terdiri dari ribuan serbuk sari. Panjang seluruh 
bunga sekitar 15-35 cm, sedang panjang 
malai 7-15 cm.  Bunga betina hanya 
menghasilkan putik, berbentuk agak bulat. 
Mempunyai mahkota dan mata tunas dengan 
satu putik dan bakal biji yang tersusun dalam 
kuntum. Satu kelompok terdiri dari 1-3 malai, 
setiap malai mengandung 10-20 bakal buah. 
Panjang bunga seluruhnya 20-30 cm, panjang 
malai 7-10 cm. Warna hijau kekuningan lalu 
merah dan sebelum mekar sempurna bunga 
sudah berwarna kehitaman. Selain bunga 
jantan dan betina terdapat pula bunga 
hermaprodit (Anonim, 1992; Steenis, 1975; 
Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1968). 
Akar serabut, menjalar datar di bawah 
tanah. Daerah perakaran tidak luas, dangkal 
dan mudah rusak jika kekeringan atau 
kelebihan air. Perkembangan akar sangat 
dipengaruhi oleh cara pengolahan tanah, 
pemupukan, tekstur tanah, sifat fisik tanah, 
sifat kimia tanah, air tanah dan lain-lain. Untuk 
menjaga akar tetap tumbuh, maka perlu 
diadakan penimbunan dan setelah muncul 
akar-akar muda, akar yang tua dipotong 
(Tjahjadi, 1995; Santoso, 1990). 
Buah umumnya berbentuk segitiga, bulat 
telur terbalik, bulat atau lonjong dengan ujung 
runcing, terangkai rapat dalam tandan buah di 
ketiak pelepah daun. Kulit buah tersusun 
seperti sisik-sisik/genteng berwarna cokelat 
kekuningan sampai kehitaman. Daging buah 
tidak berserat, warna dan rasa tergantung 
varietasnya. Dalam satu buah terdapat 1-3 biji. 
Biji keras, berbentuk dua sisi, sisi dalam datar 
dan sisi luar cembung (Anonim, 1992; Steenis, 
1975). 

Keanekaragaman 
Varietas salak dibedakan berdasarkan 
tekstur daging buah, warna kulit buah, besar 
buah, aroma dan rasa daging buah, serta 
habitus. Perbedaan ini tidak hanya terjadi 
pada tanaman salak dari sentra produksi yang 
berbeda, tetapi juga antar tanaman dalam satu 
daerah (Hambali, 1994). Fenomena ini 
menyebabkan tanaman salak yang sudah 
dikelompokkan atas dasar sistem klasifikasi/ SUSKENDRIYATI dkk. – Salak Pondoh di Sleman 61
taksonomi, masih menunjukkan keanekaragaman di antara anggota setiap populasi 
(Sofro, 1994). Varietas baru dapat muncul 
karena faktor lingkungan dan variasi genetis, 
misalnya akibat penyerbukan silang 
(Heywood, 1967). Perbedaan dan persamaan 
kemunculan morfologi luar spesies suatu 
tanaman dapat digunakan untuk mengetahui 
jauh dekatnya hubungan kekerabatan. 
Ciri-ciri morfologi luar yang dikontrol secara 
genetis akan diwariskan ke generasi 
berikutnya. Faktor lingkungan juga 
berpengaruh terhadap ekspresi ciri tersebut, 
meskipun hanya bersifat temporer. 
Keanekaragaman dapat diamati pada individu 
dalam satu kelompok populasi, antar 
kelompok populasi dalam satu spesies dan 
antar spesies (Sofro, 1994). 

BAHAN DAN METODE  
Lokasi dan waktu 
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Turi 
dan Pakem, Kabupaten Sleman Yogyakarta 
pada bulan April-Mei 2000. 
Bahan dan Alat 
Pengambilan Sampel 
Alat yang digunakan adalah: tas, gunting 
tanaman, pisau, benang, pensil, buku 
lapangan, etiket gantung, dan altimeter. 
Pengamatan Morfologi 
Alat yang digunakan adalah: mikroskop stereo, 
lampu penyorot, lensa pembesar, cawan petri, 
jarum pemisah, pisau/silet, dan pinset. 
Cara Kerja 
Pengambilan Sampel 
Sampel diambil dari lima tanaman secara 
acak pada setiap varietas. Dari setiap 
tanaman sampel diambil ibu tangkai daun 
keempat dari pangkal batang, dan anak daun 
kelimabelas. Di samping itu pada setiap 
tanaman sampel diambil satu tandan buah 
dan masing-masing tandan diambil lima buah 
salak pondoh untuk diamati.  
Pengamatan Morfologi 
Kriteria yang diamati adalah: (1) morfologi 
batang, tinggi tanaman; (2) morfologi daun : 
susunan daun, warna permukaan daun atas, 
warna permukaan daun bawah, warna 
pelepah, jumlah anak daun, panjang ibu 
tangkai daun, panjang anak daun, lebar anak 
daun, panjang ujung daun, lebar ujung daun, 
keadaan ujung daun, keadaan ibu tangkai 
daun; (3) morfologi bunga: susunan bunga, 
bentuk bunga jantan dan betina, warna 
mahkota bunga, warna benang sari; (4) 
morfologi buah: warna kulit buah, bentuk sisik, 
bentuk buah, ujung buah, diameter buah, 
warna biji, jumlah biji, daging buah, jumlah 
buah per tandan; serta (5) morfologi duri. 
Analisis data 
Data yang di peroleh dari setiap varietas 
dianalisis secara deskripsi komparatif untuk 
menunjukkan adanya kesamaan dan 
perbedaan morfologi. Kemudian data 
ditabulasikan untuk menentukan hubungan 
kekerabatan antar varietas (Sneath dan Sokal, 
1973; Pielou, 1984). 

HASIL DAN PEMBAHASAN 
Kabupaten Sleman merupakan sentra 
produksi salak di Daerah Istimewa 
Yogyakarta, terutama Kecamatan Turi, 
Tempel dan Pakem. Buah salak yang sangat 
terkenal dan digemari adalah salak pondoh, 
karena rasanya sangat manis (Kusuma dkk., 
1995). Dalam penelitian di Kecamatan Turi 
ditemukan dua varietas salak pondoh yang 
banyak dibudidayakan, yaitu varietas gading 
dan hijau. Sedang di Kecamatan Pakem 
ditemukan enam varietas, yaitu varietas hitam, 
kuning, merah, merah-kuning, merah-hitam 
dan varietas manggala. Pada masa 
mendatang masih ada kemungkinan 
ditemukan varietas baru, mengingat 
kemungkinan terjadi penyerbukan silang 
(Santoso, 1990). Salak pondoh manggala 
merupakan varietas terbaru dan mempunyai 
ciri berbeda dengan pondoh lain (Peni, 1998). 
Perbandingan morfologi 
Dalam penelitian ini data morfologi yang 
mampu bertindak sebagai sifat pembeda 
sebanyak 14 buah, berasal dari daun dan 
buah, sedang sifat-sifat morfologi lainnya 
cenderung sama. Tabulasi ciri-ciri pembeda 
morfologi kedelapan varietas tersebut 
disajikan pada Tabel 1. 
Habitat berbagai varietas salak di atas 
mirip, yaitu terletak pada ketinggian sekitar 
700 m dpl. dengan temperatur harian relatif 
sejuk.
Tanaman salak ini berakar serabut dan 62 BIODIVERSITAS Vol. 1, No. 2, Juli 2000, hal. 59-64
dangkal, sehingga, memerlukan unsur zat 
nutrisi dan air yang letaknya dekat dari 
permukaan tanah. Untuk mencukupi nutrisi, 
maka diadakan pemupukan berkala tiga tahun 
sekali. Habitus tanaman salak seragam, yaitu 
mirip pohon golongan palmae.  
Daun tersusun menyirip, termasuk daun 
sempurna yaitu mempunyai helai daun, 
tangkai daun dan pelepah. Tangkai daun 
tersusun roset, sehingga batang sangat 
pendek dan seolah-olah tidak ada. Pada 
permukaan tepi daun, pangkal dan ventral 
tangkai daun terdapat duri tempel yang 
warnanya relatif sama. Bentuk dasar daun 
semua sama yaitu lanset, hanya berbeda 
komposisinya. Warna permukaan atas daun 
salak pondoh hijau, merah-hitam, hitam dan 
salak pondoh manggala adalah hijau tua. 
Warna permukaan atas daun salak pondoh 
kuning dan salak pondoh merah-kuning 
adalah hijau. Sedang untuk salak pondoh 
merah dan gading berwarna hijau muda. 
Semua varietas salak di atas memiliki warna 
permukaan bawah daun putih.  
Jumlah anak daun terbanyak terdapat pada 
varietas gading, merah-hitam dan hitam yaitu 
63-65 helai. Sedang jumlah anak daun 
tersedikit terdapat pada varietas merah-hitam 
dan hitam yaitu 60-62 helai. Varietas lain 
didapatkan jumlah anak daun yang hampir 
sama. Berdasarkan ukurannya, anak daun 
terpanjang terdapat pada varietas hitam, dan 
ukuran terpendek pada varietas manggala. Ibu 
tangkai daun terpanjang terdapat pada 
varietas gading dan terpendek pada varietas 
merah, sedang keenam varietas lain hampir 
sama. Panjang dan lebar anak daun 
berbanding lurus, ukuran terbesar terdapat 
pada varietas gading, sedang ukuran varietas 
lain hampir seragam.  
Tabel 1. Sifat pembeda berbagai varietas salak pondoh di Sleman 
Varietas Salak Pondoh 
No.  Sifat  Hijau Merah Kuning Hitam Merahkuning 
Merahhitam 
Manggala 
Gading 
D A U N 
1.  Warna permukaan 
daun atas  
hijau tua hijau 
muda 
hijau hijau tua hijau hijau tua hijau tua hijau 
muda 
2. Jumlah anak daun  61-63 62-64 63-65 60-62 61-63 60-62 54-55 64-65 
3. Panjang ibu tangkai 
daun (m) 
5-5,15 3,25-3,4 5,2-5,15 4,43-4,45 4,28-4,30 4,5-4,55 4,65-468 5,5-5,9 
4. Panjang anak daun 
(cm) 
61-64 63-66 61-63 76-78 61-63 69-71 55-57 78-75 
5. Lebar anak daun  4-4,5 4-4,5 4-5,5 5,5-6 4-4,5 4-4,5 4-4,5 4-4,5 
6. Panjang ujung anak 
daun 
45-47 35-37 46-48 55-57 48-50 51-53 48-50 49-51 
7. Lebar ujung anak daun  37-39 31-32 38-39 43-43,5 36-37,5 42-43 50-51,5 52-55 
8. Keadaan ujung anak 
daun  
bergigi bergigi bergigi bergigi bergigi bergigi membulat bergigi 
B U A H 
9. Duri pada buah hijau 
kehitaman
merah 
kehitaman
coklat  coklat  merah  hitam  hitam  merah 
10. Warna kulit buah coklat 
kehitaman 
coklat 
kemerahan
hitam hitam merah kekuningan 
hitam 
kemerahan 
coklat kuning 
cerah 
11.  Bentuk buah  segitiga  
pantat 
besar 
segitiga 
pantat 
besar 
segitiga  segitiga  segitiga 
pantat 
besar 
bulat  oval  oval 
12. Ukuran buah  runcing runcing runcing runcing meruncing tumpul runcing runcing 
13. Jumlah buah per 
tandan 
4-20 20-35 14-20 14-20 25-30 10-15 10-14 8-10 
14. Diameter buah  3-4 4,5 3 3 4 5 4,5  SUSKENDRIYATI dkk. – Salak Pondoh di Sleman 63
Duri tersebar tidak merata, sangat banyak 
pada pangkal tangkai daun dan tersebar 
jarang di ventral tangkai. Duri juga terdapat di 
seluruh permukaan buah salak dan tepi 
helaian daun. Warna duri pada tangkai daun 
hampir sama yaitu coklat sampai kehitaman, 
sedang untuk varietas gading duri lebih 
spesifik, warnanya kuning cerah dan panjangpanjang. Duri pada permukaan kulit buah 
memiliki warna yang bervariasi (periksa Tabel 
1). Varietas gading mempunyai keistimewaan, 
dimana duri tidak terlalu tajam dan tidak keras. 
Morfologi buah salak bervariasi, tergantung 
dari varietasnya, meskipun demikian dalam 
penelitian ini kedelapan varietas yang 
ditemukan memiliki rasa dan tekstur yang 
manis dan masir, mulai dari yang masih muda 
sampai tua, kecuali varietas gading, dimana 
rasa daging buah yang manis hanya 
didapatkan pada buah salak yang benar-benar 
tua. Jumlah anak buah dan biji pada satu buah 
salak bervariasi tergantung besar kecilnya 
ukuran buah. Warna biji seragam, dari yang 
berumur muda berwana putih, menuju ke tua 
berwarna kecoklatan sampai hitam.  
Bentuk buah salak biasanya oval sampai 
bulat, dengan ujung meruncing dan pantat 
membulat. Bentuk ini bervariasi mulai dari 
yang berpenampakan seperti segitiga pada 
varietas hijau, merah, kuning dan merahkuning, bentuk oval pada varietas manggala 
dan gading, serta bentuk bulat pada varietas 
hitam dan merah-hitam. Jumlah buah dalam 
setiap tandan bervariasi. Jumlah terbesar 
terdapat pada varietas merah, dan terkecil 
pada varietas gading. Sementara keenam 
varietas lain jumlahnya rata-rata hampir sama, 
yaitu antara 10-20 buah per tandan.  
Kulit buah salak tersusun seperti genteng, 
dengan warna bervariasi. Pada varietas hijau 
berwarna coklat kehitaman, pada varietas 
merah hijau berwatna merah kehitaman, pada 
varietas kuning berwarna coklat, pada varietas 
hitam berwarna hitam, pada varietas merahkuning berwarna merah dan pada varietas 
merah-hitam berwarna hitam. Sedang pada 
varietas manggala berwarna hitam dengan 
lorek, sehingga disebut salak lorek. Pada 
varietas gading warnanya sangat mencolok, 
yaitu kuning cerah. Berbagai variasi warna 
kulit buah ini sering digunakan untuk 
mempermudah identifikasi.  
Dalam penelitian, semua tanaman salak 
yang ditemukan berumah dua, dimana bunga 
jantan dan bunga betina terpisah. Bunga 
jantan maupun betina tersusun dalam tipe 
perbungaan tongkol. Bunga jantan tersusun 
seperti genteng, mempunyai benang sari yang 
banyak berwarna kuning. Sebelum mekar baik 
bunga jantan maupun bunga betina 
diselubungi oleh seludang. Bunga betina 
mempunyai mahkota umumnya merah muda. 
Khusus varietas gading, mahkota bunga 
berukuran lebih besar dan berwarna lebih tua. 
Dalam penelitian ini morfologi bunga tidak 
digunakan sebagai ciri pembeda varietas, 
karena kenampakan umumnya mirip sekali 
dan sulit dibedakan. 
Dendrogram hubungan kekerabatan 
Berdasarkan ciri-ciri pembeda pada Tabel 
1, maka susunan dendrogram hubungan 
kekerabatan antara delapan varietas salak 
pondoh di Kabupaten Sleman disajikan pada 
Gambar 1. 
Gambar 1. Bagan dendogram hubungan kekerabatan 
salak pondoh di dataran tinggi Sleman 
Dendogram menunjukkan bahwa hubungan 
kekerabatan terdekat terjadi antara varietas 
hitam dengan merah-hitam, dengan indeks 
similaritas tertinggi 78%. Diikuti oleh varietas 
hijau dan kuning dengan indeks similaritas 
71%. Hubungan kekerabatan selanjutnya 
antara tiga varietas merah, merah-kuning dan 
gading dengan indeks similaritas 64%. 
Hubungan kekerabatan terjauh dimiliki oleh 
varietas manggala dengan indeks similaritas 
78
71
64 
50
Hitam  
Merah-hitam  
Hijau  
Kuning 
Merah 
Merah-kuning 
Gading  
Manggala 64 BIODIVERSITAS Vol. 1, No. 2, Juli 2000, hal. 59-64
50%. Salak manggala ini merupakan varietas 
terbaru yang kini mulai dikembangkan. 
Prospek budidaya dan pelestarian 
Prospek budidaya dan pemasaran salak 
pondoh di Kabupaten Sleman, DIY sangat 
cerah, karena kondisi mikroklimatnya sesuai 
untuk bertanam, serta rasa daging buahnya 
sangat khas dan digemari. Budidaya yang 
dilakukan masyarakat secara besar-besaran 
menyebabkan biaya produksi menjadi murah, 
sehingga harga buah salak pondoh di pasaran 
relatif terjangkau.  
Dari delapan varietas salak pondoh di 
Sleman yang mempunyai nilai jual tertinggi 
adalah varietas gading dan varietas manggala. 
Hal ini dikarenakan kedua varietas tersebut 
memiliki ukuran buah relatif lebih besar, 
rasanya lebih manis dan belum banyak 
dikembangkan oleh masyarakat sehingga 
terkesan eksklusif.  
Sebagaimana umumnya tanaman budidaya 
yang bernilai ekonomi tinggi, maka 
kemungkinan terjaganya kelestarian sumber 
plasma nutfah salak pondoh sangat tinggi. 
Meskipun demikian pertanian massal selalu 
memilih komoditas paling bernilai, sehingga 
kemungkinan punahnya varietas salak pondoh 
yang nilai ekonominya lebih rendah 
dibandingkan varietas terbaru dapat terjadi. 
Sebagaimana telah terjadi pada salak varietas 
non pondoh, misalnya salak Bali atau 
Banyumas, yang kini hampir tidak dapat 
ditemukan lagi di dataran tinggi Sleman.
KESIMPULAN 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 
terdapat delapan varietas salak di dataran 
tinggi Sleman, yaitu varietas pondoh hijau, 
pondoh hitam, pondoh kuning, pondoh 
manggala, pondoh merah-kuning, pondoh 
gading, pondoh merah, pondoh merah-hitam. 
Setiap varietas menunjukkan keanekaragaman morfologi yang cukup besar. Adapun 
hubungan kekerabatan terdekat pada delapan 
varietas tersebut terdapat pada varietas 
pondoh merah-hitam dengan pondoh hitam, 
sedangkan hubungan kekerabatan terjauh 
dimiliki oleh salak pondoh manggala terhadap 
varietas lainnya. 
DAFTAR PUSTAKA 
Anonim. 1982.  Bertanam Pohon Buah-buahan. 
Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 
Anonim. 1992.  18 Varietas Salak. Jakarta: Penerbit 
Penebar Swadaya.  
Backer, C.A. dan R.C. Bakhuizen van den Brink. 1968. 
Flora of Java. Volume III. Groningen: Wolters 
Noordhoff. 
Hambali, G. 1994.  Spesies dan Varietas. Jakarta: 
Trubus. 
Heywood, V.H. 1967.  Plant Taxonomy. New York: St. 
Martin’s Press. 
Kusumo, S., A.B. Farid, S. Sulihanti, K. Yusri, Suhardjo 
dan T. Sudaryono. 1995.  Teknologi Produksi Salak. 
Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan 
Holtikultural Badan Peneltian dan Pengembangan 
Departemen Pertanian. 
Nazaruddin dan Kristiawati. 1997.  Varietas Salak. 
Jakarta: Penebar Swadaya. 
Peni, S. 1998.  Manggala Terenak dan Terbesar dari 
Kerajaan Pondoh. Jakarta: Trubus. 
Pielou, E.C. 1984. The Interpretation of Ecological Data. 
A Primer on Classification and Ordination. New York: 
John Wiley & Sons. 
Santoso, H.B. 1990.  Salak Pondoh.  Yogyakarta: 
Penerbit Kanisius 
Sastroprodjo, S. 1980. Fruits. IBPGR Scretariat Home.  
Sofro, A.S.M. 1994.  Keanekaragaman Genetik. 
Yogyakarta: Andi Offset. 
Sneath, P.H.A. dan R.R. Sokal. 1973.  Numerical 
Taxonomy. San Francisco: W.H. Freeman & Co. 
Steenis, C.G.G.J. van. 1975.  Flora Untuk Sekolah di 
Indonesia. Jakarta: PT. Pradnya Paramita. 
Tjahjadi, N. 1995.  Bertanam Salak. Yogyakarta: 
Kanisius. 
Tjitrosoepomo, G. 1988.  Taksonomi Tumbuhan 
Spermatophyta. Yogyakarta: Gadjah Mada University 
Press. SUSKENDRIYATI dkk. – Salak Pondoh di Sleman 65

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar